…tak bisa hatiku menafikan cinta karena cinta tersirat bukan tersurat…

Kalimat tersebut aku nukilkan dari lirik lagu milik Band Zigaz, Sahabat jadi Cinta. Dulu, waktu masih didapuk jadi tentor di Primagama, aku sering banget pakai potongan lirik tersebut untuk mendedah materi puisi.

Enggak, aku enggak jago banget di bagian puisi dan sastra. Cenderung payah. Aku hanya berusaha untuk mencari cara termudah untuk memahami dan membantu anak didik untuk paham. Dunia per-band-an, lagu hits, dan lirik cinta-cintaan jelas mendekatkan mereka dengan kata tersirat dan tersurat.

Tersurat berarti kita bisa temukan langsung di teks-nya, Kawan-kawan. Seperti surat, wujudnya ada dan langsung terbaca lewat teks. Kalau tersirat, kita musti baca dan pahami dulu, lantas menyimpulkan versi kita tentang bagaimana maksudnya. Enggak semudah mencari seperti hal yang tersurat tadi, dari permukaan saja kita tahu arahnya.

Cinta juga begitu. Kalau pacarmu setiap hari punya hobi mengatakan aku sayang kamu, itu bentuk tersurat. Nyata, ngotot, dan tak usah terlalu dipercaya gampang dimaknai.

Beda kalau misal kamu punya pasangan, suka malu kalau mengungkapkan perasan lewat lisan. Namun, ketika kamu pasang status WhatsApp “Hujan-hujan gini martabak enak nih”, enggak sampai satu bakaran rokok Marlboro tiba-tiba muncul di gerbang kosanmu sambil membawa Sego Tempong Mboh Nah. Fix deh, pertahankan. Begitu definisi tersirat versiku.

Tadi pagi saya bertemu bacaan dari David Friedman dalam buku berjudul Hidden Order. Ceritanya, dua ekonom berjalan beriringan tanpa gandengan tangan. Kala melintas sebuah toko mobil, satu ekonom menunjuk mobil Porsche mewah di dalam toko sambil berkata, aku mau mobil itu. Kawannya bilang, tidak mungkin. Kamu pasti tidak mau. Mereka berdua lantas tertawa dan melanjutkan perjalanan.

Kenapa mereka tertawa? Mari saya jelaskan. Dalam bahasa ekonomi, ada istilah revealed  preference dan stated preference. Kedua istilah tersebut jika diterjemahkan kira-kira punya makna preferensi tersirat dan preferensi  tersurat. Salah satu konsep penting dalam ekonomi adalah preferensi atau kesukaan. Konsep tersebut menjelaskan tentang perilaku memilih pada tingkah laku manusia.

Preferensi sebaiknya punya data. Dari data tersebut, seseorang ketahuan suka pada satu barang saat dia terlihat sering memakai atau mengonsumsi barang tersebut. Misalnya, kalau di lubang angin kamar Ali ditemukan banyak tertumpuk bungkus rokok Sampoerna. Kita bisa memperoleh wawasan kalau Ali suka rokok merek tersebut.

Kita juga bisa mendapatkan wawasan sama dengan contoh di atas, andai Ali mengatakan secara langsung jika dia suka rokok merek Sampoerna. Tak masalah, meskipun kita tidak melihat Ali merokok secara langsung atau berkunjung ke kamarnya.

Wawasan pertama menghasilkan data tersirat, sedangkan wawasan kedua disebut data tersurat (terucap).

Pembedaan data tersirat dengan data tersurat jadi penting ketika kita berpedoman pada pernyataan lawas. Percayalah yang dia lakukan, bukan apa yang diucapkan.

Si Ali bisa saja penyuka Sampoerna, tetapi justru mengatakan pencandu rokok Marlboro. Bahkan, bisa saja dia mengatakan bukan seorang perokok.

Kedua ekonom juga begitu. Mereka berdua tertawa karena saling paham. Jika dia memang suka Porsche, maka dia akan masuk toko dan membelinya. Bukan sebatas berkata-kata.

Sikap kritis terhadap data dan bahasa bakal sangat berguna dalam upaya bersikap atas isu keseharian. Sikap tersebut menjadikan kita skeptis atas pernyataan siapa juga. Calon pemimpin, pejabat, bahkan media di linimasa.

Tidak ditelan secara mentah, tidak asal bungah, saat ada yang mengatakan kamu terlalu baik untukku.

Percayalah, itu bukan pujian.

Kamu sedang diputus, Mylov.

Disarikan dari Artikel Yang Tersirat dan Tersurat, Arianto Patunru.

One Reply to “Tersirat dan Tersurat Versiku, Bukan Zigaz”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *