Hidup dengan kebiyasaan anyar turut mendorong inovasi baru dalam upaya menghadapi korona di musim pandemi. Per tanggal 16 Juli, garis putih pemisah jarak kendaraan bermotor di lampu merah resmi diberlakukan di Banyuwangi. Melalui akun gemar ngonten, Dinas Perhubungan Banyuwangi, menyiarkan inovasi baru ala starting grid di moto-GP.

Sejak hal tersebut viral di grup WhatsApp keluargaku sendiri, aku yang berdomisili sekitar 35 kilometer dari pusat kota ingin segera merasakan serunya berhenti di lampu merah depan Gedung DPRD. Maju sepuluh meter, putar balik dan berhenti lagi di depan lampu merah Kantor Kecamatan Banyuwangi, lantas bablas pulang untuk bercerita kepada tetangga. Aku dilanda euforia.

Aku akan cerita bagaimana presisinya jarak dan garis marka start dibuat, pasti dicetak oleh petugas berlatar belakang Teknik Sipil. Lihat juga dedikasi petugas Dinas Perhubungan melakukan sosialisasi kepada pengendara yang akan berhenti. Petugas mengarahkan, tak peduli tingkat panas cuaca di Perliman Banyuwangi sering di-meme-kan lebih dekat ke Matahari ketimbang Planet Bumi itu sendiri.

Apa mau dikata, aku memang tipikal orang gumunan. Ketika disuguhi hal fantastis, aku cenderung untuk tertegun kagum. Tidak semua seperti Anji aku, ada juga yang mencoba kritis dan bertanya ini-itu terkait kebijakan baru. Di tulisan ini, aku mencoba membeberkan kekaguman saja. Tak sampai pada pikiran kritis, sebab ilmu dan wawasanku enggak sampai sana.

Garis putih ala starting grid Moto-GP pertama kali populer di Kota Tuban. Pemerintah Kota Tuban mengadaptasi pemisahan kendaraan bermotor pada pertengahan Juni tahun 2020. Kemudian, disusul oleh daerah lain seperti Kota Bengkulu, Sukabumi, Kebumen, Pusat Kota Mojokerto, dan Kota Bandung. Kota terakhir disebut bahkan punya 159 titik lampu merah dengan starting grid di Wilayah Polda Jawa Barat. Wow, nggumun lagi saya.

Kalau bicara angka, bisa jadi Kota Banyuwangi kalah jumlah. Namun, aku ingin mengajak pembaca untuk beri apresiasi khusus kepada petugas dari jajaran Dinas Perhubungan, TNI, dan Polri di lingkup kabupaten kami. Menurut hematku, bapak-bapak petugas mengecat garis start pas waktunya orang ndekem di rumah. Tengah malam.

Ah, bapak-bapak petugas ini mulia sekali. Aku duga mereka punya niat men-clilukba karyawan shift tiga. Pagi hari, sambil terkantuk ketika pulang berkendara, mereka akan dikejutkan dengan kondisi aspal baru di depan mata. Lwoh, onok opo iki kok moro-moro digarisi. Tolah-toleh sambil mikir pasti bisa menghilangkan rasa kantuk. Aha!

Kawan-kawan lembur-ers juga pasti heran, kemarin lewat belum ada, kok sekarang tiba-tiba ada garisnya. Aku, seperti juga mereka, pasti mbatin. Kepala Dinas Perhubungan, jangan-jangan sedang mencari perhatian Roro Jonggrang.

Tak berhenti sampai pada giat mengecat semalaman, besok pagi dan beberapa hari berikutnya masih juga petugas bekerja keras. Kali ini berkaitan dengan sosialisasi penggunaan. Dengan kelihaian mengatur kendaraan, petugas selalu tersenyum saat mengarahkan kendaraan untuk lebih ke depan, mengepaskan garis, hingga memberhentikan kendaraan roda empat beberapa meter agak di belakang.

Dua-tiga petugas sosialisasi garis start terlihat selalu tersenyum. Aku tak percaya kalau ada kawan bilang giat mereka untuk kebutuhan konten media sosial. Pasti ditekankan betul untuk terlihat ramah. Cara seperti itu memang rentan menyentuh ranah kesungkanan. Tanpa dibentak dan dipendeliki, pengendara manut saja sesuai arahan. Ciri-ciri petugas era zaman kiwari.

Duet pemerintah dan petugas dalam inovasi starting grid di lampu merah bermuara pada anjuran pembatasan jarak fisik. Bukan hal baru jika kita melihat pengendara berdesakan berburu garis terdepan ketika berhenti di persimpangan. Jelas, tidak bagus di era pandemi.

Atas nama kebutuhan ekonomi, pengendara di jalan berkompetisi. Jiwa-jiwa kesusu itu seolah terwadahi dengan situasi ala start balapan. Secara psikologis, penempatan garis bisa menjadi dorongan bagi pengendara terlihat lebih keren. Mereka akan tertib menempati garisnya masing-masing. Tanpa sadar, tujuan utama garis tersebut adalah memberikan jarak antarkendaraan. Benar-benar sebuah teknik hipnonis.

Aku awalnya tidak percaya kalau garis putih di aspal bisa menyugesti orang untuk berhenti. Malah, saya pikir cat-nya dijampi-jampi. Banyak pengendara manut saja untuk menutup tuas gas dan menginjak rem untuk berhenti. Tak lebih ke depan, tak menyimpang ke samping. Iya, sebatas garis sanggup membuat pikiran patuh. Mengubah sikap dan tindakan warga.

Kalau semua pengendara sudah berada di kondisi ideal begitu, maka tiba saatnya aku makin merasa teralienasi. Menjadi pengendara dengan perasaan liyan. Entah karena aku tidak terimbas hipnosis, termakan propaganda, atau memang karena sudah kebiasaan.

Aku ambil contoh ketika berangkat kerja dari arah Rogojampi dan harus berhenti di lampu merah Pertigaan Kampus Politeknik Banyuwangi. Ketika semua pengendara tertib berhenti, dalam hati aku selalu punya pikiran untuk menerobos saja. Hlawong gerbang masuk ke tempat kerja tinggal lurus berjarak sepelemparan batako saja.

Dengan perasaan amat-sangat-terpaksa, aku ikut menghentikan laju kendaraan. Lebih karena punya pikiran mungkin saja ada atribut di badan yang membuat mahasiswa mengenali. La ya enggak lucu, di kelas dijadikan panutan, tapi di jalan suka ugal-ugalan. Malu dengan pencitraan di instagram.

Lain titik lampu merah, lain lagi sikapku berkendara. Taruh saja di lampu merah Taman Blambangan. Alih-alih berhenti di depan Gerbang Kantor Pegadaian, aku gemar berhenti seratus meter sebelumnya, tepat di depan Gedung Wanita. Alasannya sederhana, ngiyup. Sumpah, aku lebih takut panas ketimbang sekadar terlihat keren di garis start.

Setengah bulan setelah kebijakan diberlakukan, petugas tidak lagi berjaga di persimpangan. Mereka percaya masyarakat sudah dewasa pikirannya. Tak perlu diatur dan diarahkan lagi lewat sosialisasi. Kalau kita analogikan, seperti kantin kejujuran. Taruh saja, maka orang lain sudah tahu harus apa.

Ndilalah, sekarang garis start tetap ada, tetapi pengendara makin banyak jejer di bawah pohon sambil bercengkerama. Garis start tak lagi penuh terisi seperti hari sebelumnya. Euforia itu tak lagi ada. Sungguh Pak, bukan maksudku jadi influencer di Kota Gandrung, tapi memang para pengendara sepertinya punya sifat dasar masyarakat tropis, wedi ireng.

Kesimpulannya, pendekatan keviralan ternyata tak cukup membuat warga ajeg dalam berkegiatan. Tidak juga maksimal lewat pendekatan psikologis dengan membuat warga merasa ditingkatkan kadar kerennya. Jika pemerintah punya kebijakan, sentuh hati masyarakat. Pahami rasa takut terbesar warga saat berkendara.

Saat menanam pohon di sekitar persimpangan terasa lama dan berat, bagikan saja skincare tiap-tiap pengendara. Lebih instan dan dijamin rebutan untuk berada paling depan. Setuju, kan?

 

Arik Fajar Cahyono

Tayang di Rubrik Opini Radar Banyuwangi, Jawa Pos tanggal 12 Agustus 2020.

One Reply to “Euforia Starting Grid ala Moto-GP, Tak Lagi Ada”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *