Berdasarkan pola musim di Indonesia yang saya hafalkan pada buku rangkuman pengetahuan alam lengkap (RPAL), maka mustahil bulan Juni diguyur hujan. Jelas enggak riset dulu nih, penyair bernama Sapardi. Kok bisa-bisanya nulis enggak didasarkan data.

Kalau mau, riset di zaman kiwari juga tidak susah. Tinggal buka internet, kemudian masuk ke aplikasi yang kemarin mborong jam tayang utama televisi nasional. Bakal jelas terpampang, bulan Maret ke September itu mongso ketigo, waktunya kemarau.

Begitulah cara saya tahu penyair Sapardi. Dari judul yang ndak umum itu, akhirnya saya makin tahu tentang kisah Pinkan dan Sarwono. Apalagi kemudian muncul film setelah novelnya. Sedikit telat, tapi Velove Vexia membantu saya menikmati sebuah karya. Saya berkilah sebagai anak Program Studi Bahasa Indonesia yang fokus pada Linguistik, bukan Sastra.

Tanggal 19 Juli, sekira pukul 9 pagi, berpulanglah Pak Sapardi.  Seorang akademisi, sekaligus praktisi di dunia sastra. Banyak grup whatsapp, eh hanya dua ding di gawai saya, saling berkirim pesan berantai disertai dengan ucapan bela sungkawa bermodal salin tempel (copy paste). Mendoakan, tapi tidak setulus itu.  Bertabur pula foto beliau di unggahan status kawan satu circle saya.

Kalau saya perhatikan, mereka yang menampilkan apresiasi terhadap Pak Sapardi adalah kawan di Alumni Sastra, rekan profesi Guru Bahasa Indonesia, dan beberapa teman yang kelihatannya gemar baca. Sebagai seorang maestro yang berkarya sampai usia 80 tahun, saya terka beliau seharusnya banyak penggemarnya.

Lantas, kok enggak semua teman saya mengunggah. La terus sisane nang endi? Ora ngerti opo ancene ora nduwe empati?

Mari kita bahas.

Belum lama ini saya baca tulisan Pak Benny Hoed di buku Caleg Selebritas, Kekerasan, dan Korupsi: salah satu esai berjudul Hidup ini tidak Hanya untuk Makan. Pak Benny mengkritisi keadaan zaman 60-an akhir, pada saat demam Pelita (Pembangunan Lima Tahun). Orang sibuk membicarakan soal pembangunan ekonomi negeri. Ekonomi sebagai panglima. Namun, di sisi lain urusan kebudayaan jadi terbengkalai.

Pada saat itu, para pemimpin juga ribut tentang masuknya kebudayaan asing ke pemuda-pemuda kota, kelompok yang sebenarnya tidak lagi lapar secara ekonomi.  Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan belum serius terhadap Pendidikan Sastra, Seni, dan Budaya. Pada tahun-tahun itu, urusan seni nasional masih milik Fakultas Sastra, Akademi Seni Lukis, ataupun Akademi Teater. Selebihnya, pelajar hanya disajikan hafalan nama-nama tanpa tahap apresiasi. Para pemimpin kebakaran jenggot karena pemuda kota lebih keranjingan budaya pop impor ketimbang budaya nasional.

Pak Benny menambahkan, urusan Sastra, Seni, dan Budaya adalah milik semua bangsa. Bukan lagi lokal dan internasional. Tidak hanya Fakultas Sastra, tapi milik semua yang bersekolah. Pelajar di Eropa umumnya tahu nama dan karya dari maestro bidang kesenian. Seorang Prancis sedikitnya bisa menyebutkan nama Moliere, Camus, dan Picasso. Orang Rusia pasti bisa bicara tentang Dostoievski atau Tolstoi.

Kalau kalian membantah, kan mereka warga Eropa sudah tidak lagi pusing masalah perut. Mereka bersekolah dengan tidak lagi memburu ekonomi. Tidak perlu hafalan Menteri Kabinet Pembangunan dan sasaran Repelita V.

Mereka yang berkata seperti di atas pasti tidak pernah nonton film Slumdog Millionaire. Si Jamal Malik, tokoh utama dari lingkungan kumuh, melarat, ndeso kesa-keso sanggup menjawab pertanyaan terakhir di acara Who Wants to be a Millionaire tentang penulis Alexander Dumas. Saya juga yakin, Si Jamal juga tahu siapa itu Rabindranath Tagore.

Halah, Mbel. Kan itu cuma film.

Memang sering makan hati kalau beropini di depan warganet. Mari kita bergerak maju ke zaman kiwari. Apakah sistem pendidikan kita sudah beranjak dari sekadar menghafal nama seniman nasional? Terus ada sebagian yang nyinyir ketika budaya K-Pop masuk, aktris JAV memenuhi galeri, hingga pembaca buku  lebih tahu Harry Potter ketimbang Sarwono. Persis seperti 50 tahun lalu.

Saya akan mengajak Anda untuk melihatnya melalui kacamata yang lebih besar. Jika akhir tahun 60-an pemerintah berlari di bidang ekonomi, maka 50 tahun berikutnya kita diajak ngebut di bidang teknologi. Pak Presiden ingin merancang pendidikan selaras dengan kebutuhan industri. Pendidikan di era disrupsi.

Kereta pendidikan diampukan kepada sekolah-sekolah vokasi berbasis keterampilan. Sasaran kemampuan sebagai produk sekolah adalah siswa jago ngoding, menganalisis data, hingga terampil mengoperasikan alat industri . Jika kita melewatkan masa sekolah, pemerintah juga menyediakan kartu prakerja berikut kursusnya.

Dengan visi pemerintah di  bidang pendidikan menjadikan sumber daya manusia unggul dan siap kerja, maka mari kita batin saja di mana letak materi Sastra, Seni, Dan Budaya. Di bagian mana posisi pelajar sosial humaniora nantinya. Ora usah nelongso, wahai arek IPS. Sejak dahulu, bab apresiasi karya seni negeri sendiri memang bukan hal umum.

Pendidikan memang sebaiknya siap menghadapi lompatan perubahan dengan orientasi teknologi,  ekonomi, dan pemenuhan kebutuhan hidup. Namun, aspek karakter berbudaya dan belajar mengapresiasi karya seni juga harus dimasukkan ke dalam sari pembelajaran. Jangan sampai kita jadi robot tanpa roh kemanusiaan.

Bagi saya, tidak ada yang mengenal Sapardi berikut karyanya adalah sebuah contoh sederhana. Bahkan, ketika beliau meninggal, sedikit pun tidak ada empati dari kamu semua. Kalau kamu merasa tidak ada masalah dengan kejiwaan Indonesia sepeninggal tiga lelaki romantis: Glenn, Lord Didi, dan Pak Sapardi.

Asli, kowe wes dadi robot, Gaes.

5 Replies to “Salah Saya Kalau Enggak Kenal Sapardi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *