Kuliah daring dengan segala keluhan sambatnya tidak hanya menimpa mahasiswa. Kalangan dosen juga dibuat pusing dengan berbagai konsekuensinya. Tak ada bedanya soal keborosan kuota data, malah kalau dihitung-hitung, para dosen justru online lebih lama.

Logikanya, kalau mahasiswa harus melek untuk mengerjakan satu tugas dari dosennya. Bisa dipastikan, satu dosen akan mendelik untuk baca tugas dari mahasiswa satu kelas seluruhnya. Capek mana? Masih muda, jangan banyak ngeluhnya.

Artikel ini sengaja saya buat supaya mahasiswa tidak egois. Melihat perkara kuliah daring hanya dari jas almamaternya saja. Coba kau lihat dari sisi manusia, berat loh punya peran ganda. Jadi dosen, sekaligus kalau sudah berumah tangga.

Pinterest.com

Terhitung sudah satu bulan kurang empat hari, akibat pandemi Covid-19, berbagai kampus mulai menerapkan kebijakan perkuliahan secara daring. Dimulai tanggal 16 Maret, usaha kecil dan menengah milik beberapa dosen terancam gulung tikar. Ada beberapa kegiatan rutin yang tidak lagi bisa kita terapkan pada masa kuliah daring.

1. Komoditas Kertas

Kawan-kawan, coba kembalikan ingatan kalian pada masa-masa sebulan lalu di dalam kelas perkuliahan. Lagi enak-enaknya duduk menyimak, dengan mata melek penuh perjuangan, tiba-tiba Dosen kita bicara lantang, “Siapkan selembar kertas …”

Jangan keluarkan sumpah-serapah dulu. Simak baik-baik penjelasan dari saya.

Saya beri tahu, ada tiga hal terselubung dalam tipe kuliah seperti itu. Pertama, melatih mahasiswa untuk siap mengeluarkan gagasan dan pikiran pada saat apa saja, bahkan saat tak mau berpikir sekali pun.  Kedua, prank bukan budaya youtuber saja. Ketiga, motivasi ekonomi dengan kumpulan kertas sebagai komoditasnya.

Pujangga boleh saja berkata bahwa puisi yang sudah ditulis menjadi hak milik pembaca. Mahasiswa begitu juga, tugas yang sudah selesai, maka kertas jadi milik dosennya.

Buatmu itu sepele. Namun, akumulasi berkardus-kardus kertas binder bisa jadi tambahan biaya dapur pas akhir semester.

Sekarang kami hanya mendapatkan email. Tidak dapat diuangkan. Malah kita yang harus keluar dana untuk mengunduh tugas kalian.

Dosen tidak suka kuliah daring.

2. Koreksi Secepatnya

Setelah tugas dikumpulkan, mahasiswa tak pernah tahu bagaimana kelanjutan pekerjaannya. Bisa jadi langsung dikoreksi, lantas diinputkan nilai tugas harian. Tak sekali juga langsung masuk bahan pertimbangan.

Betul, potensi dipertimbangkan di lapak pasar loak sangat tinggi.

Urusan mahasiswa selesai pada saat tugas dikumpulkan. Paling banter, di akhir semester langsung keluar jadi abjad A sampai E.

Jangan langsung percaya jika ada yang bilang tugas ditumpuk begitu saja. Kami adalah pekerja profesional, membaca hingga taraf titik koma. Dengan tenggang waktu, tentu saja.

Kuliah daring menyiksa kita. Berbagai aplikasi menuntut transparansi koreksi. Saya ambil contoh Edmodo. Dengan tenggat waktu, mahasiswa dituntut buru-buru. Dosen juga seperti itu, tugas sudah dikoreksi atau belum, mahasiswa bisa segera tahu.

Kami bisa saja beri nilai pukul rata semua sama, tapi kami jiwa-jiwa profesional yang menghargai karya mahasiswa. Maka, sejujurnya aplikasi kuliah daring memaksa kita bekerja koreksi tugas lebih keras dari biasanya. Janganlah kau tambah dengan teror pesan, “Pak, tugas saya kok belum dinilai, padahal sudah seminggu dikumpulkan.”

Dosen tidak suka kuliah daring.

3. Enggak bisa jadi diktator

Memang selalu ada tipikal dosen yang berlaku selayaknya Kim Jong Un. Laku kurang ajar atau tak bersepakat soal pendapat, maka nilai turun melesat. Namun, kita tidak sedang berbicara tentang idealisme politik seseorang.

Kita sedang memuji kecerdasan ekonomi seorang dosen yang pandai melihat peluang. Sadar status sosialnya, lantas memberikan persuasi supaya siswa melakukan tindakan sesuai anjurannya. Salah satunya, pada rekomendasi beli buku perkuliahan karya si dosen tercinta.

Saya punya banyak pengalaman menghadapi dosen yang sibuk di percetakan. Memulai semester baru dengan tumpukan buku-buku. Disusun, dicetak, dan dijual secara otodidak. Ruang kelas adalah pasar potensial transaksi offline. COD-an, Gan!

Pinterest.com

Mahasiswa dari zaman lampau menyebutnya diktator, jual diktat untuk bayar cicilan motor. Dosen seperti ini abadi dari zaman dahulu. Bertahan hidup dengan jalan pedangnya.

Hari-hari sekarang tak mungkin dilakukan. Sebab, kalau kami menuntut sumber referensi sebagai panduan, kalian mahasiswa tinggal unduh pdf bajakan. Disebar sesuai amanat kata kalian, begitu ‘kan?

4. Pakai baju nanggung kotornya

Bagian baju paling menyebalkan. Persoalan sepele, tetapi bisa meriuhkan kondisi rumah seorang dosen. Jika pada masa normal tanpa karantina, baju dicuci karena memang sudah kotor penuh peluh selepas mengajar. Pada masa kuliah daring, kami tidak berkeringat, tapi justru lebih sering berganti pakaian.

Bukan karena dosen punya setumpuk baju bagus. Dosen juga harus profesional. Sebagai orang yang bakal disimak konten videonya, kami harus tampil menarik. Salah satunya dengan memberi variasi pada mahasiswa yang beda program studinya. Uya Kuya adalah inspirasinya, beliau tak pernah tampil sama di tiap episodenya.

Bayangkan, tanpa biaya listrik yang digratiskan oleh Presiden Jokowi, kami harus mencuci baju lebih banyak dalam sehari.

Jangan disamakan dengan mahasiswa, baju kuliah, make-up lengkap, beserta gambar alismu masih bisa dipakai untuk bikin konten joget mama muda. Dosen? Boro-boro nyimpen aplikasi tiktok, memori kami sudah penuh oleh pdf-pdf kiriman tugasmu.

Sekali lagi, dosen juga tidak suka kuliah daring.

Tulisan ini sebagai gambaran pribadi, jangan ge-er.

14 Replies to “Mengapa Dosen Tidak Suka Kuliah Daring?”

  1. Keren Pak. Ternyata pada hakikatnya semua sama-sama disusahkan dengan daring ini.
    Pantas saja ada dosen yang mengamuk gara-gara ada satu anak yang menanyakan hal yang sudah dijelaskan hehe.
    Btw, poin terakhir lucu si, kalo dosen merasa dirugikan kalau kita dari MBP merasa diringankan. karena ga gonta-ganti baju, make up tetep utuh wkwk.
    Sukses terus Pak.

  2. Jadi ingat tugas yang belum saya kerjakan. Haha!
    Teman-teman saya suka sekali sambat akan banyaknya tugas saat perkuliahan, menurut saya sama saja. Cuma kita di rumah yang biasanya dijadikan tempat rehat. Biasanya saya dan teman-teman membayar tugas tersebut selepas perkuliahan, mungkin itu yang mengejutkan terutama saya.

  3. Saya gak bisa ngerangkai kalimat yang bagus buat komentar artikel ini pak, jadi saya hanya mau sampaikan kalo dari awal saya ngakak online. Sudah.

  4. Keren pak. Kalau saya bukan masalah tugas pak yang menumpuk tapi masalah pas kuliah gak mudeng hhhhhh, ketika enak dengerin eh jaringannya hilang hhhhh

  5. Terima kasih bapak
    bukan karna tugas yg membuat saya bingung tpi saya gak paham dengan apa yg di jelaskan dan tugas yg di berikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *