Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan hari jadi TNI Angkatan Udara pada tanggal 9 April dilaksanakan secara sederhana. Tanpa atraksi manuver pesawat tempur, tanpa gemuruh marching band, tidak juga dengan kelompok barisan pasukan. Di tengah situasi darurat kesehatan akibat Covid-19, peringatan Hari Ulang Tahun ke-74 hanya menyertakan 50 personel saja.

Kepala Staf Angkatan Udara,  Marsekal Yuyu Sutisna, menyampaikan turut berbela sungkawa terhadap korban Covid-19. TNI AU juga siap mendarmabaktikan seluruh sumber daya untuk membantu rakyat. Terlebih, pada misi kemanusiaan dan bencana.

Berbicara tentang darmabakti keluarga TNI AU, tidak hanya dalam misi kemanusiaan. Saya pernah mencatat seorang Perwira TNI Angkatan Udara bernama Sabirin. Beliau punya peran dalam sejarah Indonesia, dalam hal ini bukan dengan bertempur, tetapi menyumbangkan pemikiran dalam perkembangan bahasa Indonesia.

Sebagai seorang Guru Bahasa Indonesia, wawasan terhadap Pak Sabirin tergolong sebuah kebetulan. Pencarian saya bermula ketika mendapat pertanyaan dari siswa, “Pak, kenapa kata ganti Anda ditulis pakai huruf besar?”

Saya kikuk dibuatnya. Sebagai guru sukwan, apalagi di tahun-tahun pertama mengajar, menghadapi pertanyaan yang satu paket dengan tatapan mata seisi kelas bukanlah perkara mudah. Pada titik tertentu, pertanyaan sederhana itu membuat saya berpikir ulang tentang kelayakan gelar Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia milik saya.

Namun, rasa gengsi memaksa saya memutar otak. Seorang dalang tak boleh kekurangan jalan cerita. Jurus pamungkas ketika kita tidak bisa menjawab adalah lempar balik saja pertanyaannya ke seluruh siswa. Jelas, saya bukan satu-satunya guru yang melakukan hal tersebut. Pada prinsipnya, ‘kan siswa yang harus belajar. Begitu?

Adik-adik, mari kita diskusikan bersama pertanyaan bagus dari kawan kita. Menurut wawasan kalian, bagaimana kata Anda dituliskan?

Singkat waktu, kesimpulannya ada tiga macam tipe siswa, (1) menulis Anda dengan huruf besar sesuai anjuran Ivan Lanin, (2) menulis anda dengan huruf kecil selayaknya kata ganti orang kedua lain seperti kamu dan kau, serta (3) mereka yang tidak sadar kalau selama ini ada perdebatan huruf besar dan kecil pada kata Anda. Silakan Anda-Anda yang baca tulisan ini untuk merenung, masuk ke anggota nomor berapa.

Cara guru membalikkan pertanyaan bisa membuat suasana kelas menjadi hidup akan diskusi. Sekaligus, mengalihkan pertanyaan utama. Apa sebenarnya alasan utama kata Anda menggunakan huruf besar. Anda saja tidak sadar kan kalau topiknya saya belokkan?

***

Anda adalah sebuah kata yang diciptakan. Lebih tepatnya di-ada-kan karena sebuah kebutuhan. Anda bukan sebuah kata yang sudah jadi dalam perbendaharaan bahasa Indonesia. Ia berasal dari kata anakanda pada Kamus Moderen Bahasa Indonesia karangan Sutan Mohammad Zain (tanpa tahun, diperkirakan 1950-an).

Pinterest.com

Anakanda, Ananda, dan Anakda digunakan untuk sapaan terhadap anak raja yang patut dihormati. Sifat hormat itu tetap menempel pada kata Anda pada perkembangan selanjutnya.

Bapak Rosihan Anwar adalah pelopornya. Beliau adalah pemimpin redaksi dari surat kabar mentereng pada zaman 50-an bernama Pedoman. Pak Rosihan bukan orang sembarangan, beliau adalah lulusan sekolah AMS (Algemene Middelbare School, setara SMA) setelah menamatkan pendidikan di MULO dan HIS. Seluruh rangkaian sekolah Rosihan menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantar proses pembelajaran.

Mari kita masuk konteks menjadi Pak Rosihan. Bayangkan bagaimana pusingnya, selama sekolah terbiasa menggunakan dua kata ganti saja berupa jij dan U, lantas ketika bekerja harus bertemu dengan sekian pilihan kata ganti orang kedua dalam bahasa Indonesia. Ada kamu, kau, engkau, dikau, bapak, ibu, saudara, tuan, puan, dan sekian banyak lagi.

Apakah Anda bisa menyebutkan secara pasti dari sekian banyak selanjutnya? Jelas tidak sanggup, kecuali pernah magang tiga bulan di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Maka pada tahun 1958, muncul ide kenapa tidak cari saja kata ganti orang kedua yang bisa dipakai untuk semua orang, seperti kata you dalam bahasa Inggris? Lantas, beliau membuka undangan bagi pembaca untuk urun-usul, kata apa yang bisa berperan sebagai you dalam bahasa Indonesia.

Dari sekian banyak saran yang masuk, Pak Rosihan tertarik pada kata Anda hasil pemikiran dari pembaca bernama Sabirin, waktu itu seorang kapten di Angkatan Udara Republik Indonesia. Pak Sabirin berpendapat kalau pada zaman itu masyarakat gemar sekali memakai kata asing seperti ik, jij, dan U (bahasa Belanda), serta ane dan ente.

Bagi Pak Sabirin, mengganti penggunaan ik dan ane menjadi saya dan aku bukanlah perkara sulit. Bagian susahnya adalah menukar kata jij dengan kamu.

Masalahnya, tidak semua orang senang menerima dirinya di-kamu-kamu-kan, apalagi kalau ditujukan terhadap wanita. Pada bagian wanita dan kata ganti kamu, saya tidak menemukan penjelasan tambahan. Berikut saya kutip dari kalimat Pak Sabirin.

“Kebiasaan jang aneh ini mungkin timbulnja oleh karena pemakaian kata kamu atau kau lazimnja berlaku dalam lingkungan jang akrab benar hubungannja.”

Sangat mungkin, pada tahun 1950-an penggunaan kata ganti kamu dan kau hanya digunakan terhadap orang dengan keintiman tertentu. Keliru sedikit dalam penggunaan kata sapaan, suasana komunikasi pasti bermasalah. Kedua pihak, baik penutur maupun mitra tutur harus memperhatikan jarak sosial.

Kalau diterapkan pada zaman sekarang, penggunaan kamu dan kau tidak hanya akan bermasalah pada wanita. Anda bisa bereksperimen, pilih secara acak nomor telepon dosen lelaki, lantas tuliskan sebuah pesan seperti ini,

“Pak, mohon izin konfirmasi. Tugas dari saya sudah kamu terima apa belum?”

***

Selama delapan tahun menjadi guru sukwan, akhirnya saya mendapat jawaban. Titik terang penggunaan huruf besar pada kata Anda berasal dari sebuah artikel Roger Brown dan Albert Gilman (1960). Artikel berjudul the Pronouns of Power and Solidarity tersebut membicarakan tentang T-V distinction.

Istilah T-V merujuk pada penggunaan kata ganti orang kedua. T (tu) digunakan dalam ragam informal dan V (vos) pada ragam formal. Keduanya berasal dari bahasa Latin, pada tataran selanjutnya punya pengaruh besar pada bahasa lainnya di Eropa.

Fungsi tu dan vos kemudian berkembang pada abad keempat, ketika kekaisaran Romawi dibagi menjadi dua, di Roma dan Konstantinopel. Kata ganti vos, selayaknya digunakan dalam ragam formal, berkembang merujuk pada makna jamak. Selain itu,, vos juga menandai adanya unsur kesantunan. Adapun tu, mengerucut pada makna tunggal, informal, dan digunakan pada lawan tutur secara umum.

Penggunaan vos sampai pada titik dimana semua yang punya status sosial lebih tinggi menjadi ikut serta. Kaisar, tokoh negara, dan tokoh agama dipanggil dengan kata ganti vos. Terkait makna jamak, ada anggapan bahwa seorang pemimpin ketika berbicara dianggap mewakili rakyat dan umat, bukan atas nama diri sendiri.

Bahkan, perkembangan vos juga sampai pada tingkat pangkat jabatan, status kekayaan, dan senioritas dalam keluarga. Panggil atasan, vos. Menyapa tetangga kaya, vos. Minta duit ke Bapak, vos. Saya menduga, vas-vos vas-vos ini selanjutnya berkembang menjadi kata bos. Tapi pendapat ini perlu penelitian lebih lanjut.

Perluasan pengaruh T-V merambah pada beberapa bahasa di Benua Eropa. Semisal Spanyol (tu dan vos/ usted), Prancis (tu dan vous), Italia (tu dan Lei), Jerman (du dan Ihr/ Sie), serta Belanda (jij/ je/ jou dan U). Perhatikan secara cermat, Italia, Jerman, dan Belanda menggunakan huruf besar dalam penggunaan kata ganti formal (vos).

Dugaan saya, penulisan huruf besar pada kata ganti ragam formal bahasa Belanda punya pengaruh dan diteruskan pada bahasa Indonesia terkait praktik feodalisme dan politik bahasa. Selain itu, huruf besar melambangkan sebuah pembicaraan ragam formal. Secara, dalam tujuan awalnya, perkembangan bentuk dari vos ke U, lantas ke Anda adalah menunjukkan rasa hormat terhadap lawan bicara.

Jadi, terlepas kata Anda berbau feodal atau tidak, mari kita beri hormat untuk peran dari Pak Sabirin dan Rosihan Anwar terhadap sumbangan dalam ranah bahasa Indonesia. Jayalah TNI Angkatan Udara, Swa Bhuwana Paksa!

Tulisan ini diadaptasi dari ide Ajip Rosidi, Holy Adib, Ivan Lanin, Roger Brown, dan Albert Gilman. Tayang di Radar Banyuwangi Jawa Pos Rabu, 15 April 2020.

6 Replies to “Anda dari TNI Angkatan Udara”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *