Percakapan di dalam kereta Probowangi, sore hari.

Ibu : Kereta sampai Surabaya nanti malam, Nak.
Anak : Wah, berarti aku enggak ngaji dong, Buk?
Ibu : Besok, kalau ditanya Pak Ustaz bilang begini ya. Saya tidak TPA hari ini karena pergi ke Banyuwangi.

Asumsi saya, TPA semakna dengan sekolah. TPA singkatan dari Taman Pembelajaran Alquran. Penggunaan kata TPA merujuk pada lembaga-nya, sebuah bangunan.

Jadi, kalimat “Saya tidak TPA hari ini” dirasa kuping saya sebagai kalimat kurang pas. Lebih berterima kalau, Saya tidak berangkat ke TPA hari ini. Saya tidak masuk TPA hari ini.

Sumber gambar : Twitter

Lantas, Saya tidak sekolah hari ini, berarti harusnya ikut enggak enak juga dong?

Harusnya kan, Saya tidak masuk ke sekolah, saya tidak bersekolah.

Lagi pula, sekolah sebagai bangunan berfungsi sebagai kata benda. Kata benda jodohnya adalah BUKAN, alih-alih kata TIDAK. Bukan sekolah, bukan piring, bukan mobil, bukan kamu.

Namun, rupanya kamus suci bahasa Indonesia jauh lebih berkembang ketimbang cintamu ke dia. Bergegas saya periksa makna dari kata sekolah.

Sekolah sebagai lembaga, kamus bersepakat dengan saya. Namun, hanya di makna pertama saja. Sekolah punya empat makna penerang sekaligus.

1. Bangunan atau lembaga
2. Waktu pertemuan
3. Usaha menuntut kepandaian
4. Belajar di sekolah; Pergi ke sekolah; Bersekolah

Perhatikan makna nomor empat. Sebagai makna paling bungsu, sekolah selain dinyatakan sebagai gedung dan lembaga juga bermakna PERGI KE SEKOLAH. Simplifikasi sekali.

Ketimbang mbenakne tata kalimate warga +62, otoritas penyusun kamus malah nambahi makna anyar. Praktis.

Pasti gara-gara di tahun lampau ada orang yang kupingnya merasakan hal aneh seperti saya sekarang.

Baiklah, saya cukupkan sampai di sini. Karena masih di kereta, sore ini saya tidak masjid.

Paham?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *