Novel dengan balutan detail sejarah Indonesia. Bercerita tentang Karman, tahanan politik buangan Pulau Buru, seorang bapak dengan tiga anak dan istri kembang desa. Terpisah selama 12 tahun masa tahanan dengan ketiadaan kabar, menjadikan Karman ragu-ragu saat kembali ke kampung. Pertentangan antara rasa takut dan rindu terhadap keluarga, membuatnya berpikir panjang tentang penerimaan masyarakat di Petagen, kampung Karman.

 

Sa selalu suka dengan cerita yang dibangun berdasarkan sejarah kejadian. Dalam novel Kubah, cerita diambilkan konteks pada saat terjadi geger 1965. Gambaran pertentangan kaum agamis dan komunis dialurkan dalam lingkup sederhana, antara Karman (merah) dengan keluarga Haji Bakir (putih). Rentang cerita antara kesengsaraan rakyat pada masa pendudukan Jepang, saat Geger 1965, sampai tahun 1970-an pasca kejadian menyuguhkan detail dinamika masyarakat. Lengkap dengan konflik pertentangan kelas sampai bumbu percintaan.

 

Tentang bagaimana Pak Ahmad Tohari bercerita, tentu saja dengan tendensi beliau. Sa belum lahir pada saat konteks novel diceritakan. Namun, kehidupan tokoh-tokoh merah seperti Margo, Triman, Suti, Pria Gigi Baja, hingga Tan Ong Soek (kenapa namanya Tan?) digambarkan sebagai tukang hasut dan penuh dengan sikap politis. Berkebalikan dengan Hasyim, paman Karman, mantan Laskar Hizbullah pejuang kemerdekaan yang gemar memberikan nasihat. Juga pasangan Haji Bakir yang dituliskan punya sikap welas asih terhadap Karman kecil si anak yatim.

 

Terdapat beberapa kali salah penulisan terhadap nama diri dari tokoh di sekitar Karman. Seperti Pria Gigi Baja, lain waktu ditemukan menjadi Gigi Besi. Partindo dengan Pratindo. Masalah kecil, tetapi membuat sa garuk-garuk kepala berpikir. Apakah ini tokoh yang berbeda?

 

Novel Kubah punya detail cerita yang bagus. Cerita sederhana, tetapi gemuk dengan pesan. Cara Pak Ahmad Tohari memperkenalkan tokoh-tokoh ibarat naik bus berjalan, kita tidak sadar dengan halusnya penumpang yang naik dan turun dalam perjalanan. Tepat tiga hari ketika novel 211 halaman ini saya baca kalimat terakhir, pada saat itu saya berpikir.

 

Apakah nama Karman diambil dari kata kamerad?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *