Rencana, per bulan depan, Kementerian Agama Jawa Timur akan menambah satu syarat lagi untuk calon mempelai yang berniat menaikkan derajat diri dari status jomlo nista. Kemenag menetapkan syarat tes urine guna mengecek dan memetakan riwayat calon mempelai terhadap penggunaan obat-obatan terlarang. Kalau positif, bisa jadi gagal nikah. Wih! Bisa jadi loh ya, artinya bisa jadi nikah, bisa juga tidak. Kok keputusannya abu-abu? Mari ditelaah.

Sumber: Pinterest.com

Setuju atau tidak, jadi jomlo itu apes. Enggak cuma di Jawa Timur, di daerah lain juga mengalami nasib serupa. Dirundung di kolom-kolom komentar media sosial. Bedanya, jomlo Jawa Timur makin tambah susah lagi dengan peraturan baru dari pembuat kebijakan terkait urusan penghalalan anak orang. Mau nikah saja malah masih dibikin susah.

Jadi, mulai bulan Agustus 2019 mendatang, pasangan yang akan melangsungkan pernikahan di wilayah antero Jawa Timur akan diminta untuk tes narkoba terlebih dulu. Kata Pak Amin, selaku Plt Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur, tujuan tes narkoba adalah untuk melindungi generasi penerus bangsa. Menjaga keturunan. Jangan sampai bayi-bayi Jawa Timur terkontaminasi kandungan zat-zat terlarang. Sampai sini sepakat ya?

Kalau berangkat daftar nikah, lantas dites dan hasilnya negatif untuk kedua calon mempelai ya normal saja. Lempeng, tidak ada distorsi. Tidak akan muncul suara-suara tertindas.

Bagian menariknya justru ketika ada calon pasangan, dites terus dinyatakan positif konsumsi narkoba, proses pernikahan gimana dong? Gagal? Enggak juga. Kemenag berbaik hati dengan tetap memproses pernikahan, tetapi setelahnya bakal masuk rehabilitasi. Jadi, dianggap sah nikah.

Pembuat kebijakan sepertinya mafhum kalau ritus menikah itu tidak sesederhana bikin mi dadak rasa soto ayam. Nikah tuh, dicek dulu arah ngalor-ngulone, dihitung wetone, ditandai hari pasarane, di-test drive dulu pasangane, sampai ketemu tanggal dan hari jadi untuk ijab qabulnya. Rumit. Belum lagi itung-itungan dekor dan gerabah. Kebayang kan kalau KUA sampai kaku dalam membuat kebijakan, lantas pas bulan Dzulhijjah riuh didemo ibu-ibu yang terlanjur ngasih uang muka katering?

Lain lagi, kalau misal pihak KUA sudah meloloskan bakal jadi nikah, meskipun positif narkoba. Alhamdulillah, tapi ndilalah keluarga besar gak bisa terima dengan keadaan calon mantunya. Dipegat sakdurunge mangkat (dicerai sebelum memulai), kan tetap njadis. Justru bahaya jika makin depresi dan makin tenggelam dalam dunia pekat narkoba. Mau sambat ke siapa? Raja patah hati Lord Didi Kempot? Syukur kalau malah jadi lagu baru.

Niat awal menyelesaikan permasalahan narkoba, jatuhnya malah bikin ngelus dada. Maksudku, nikah ya nikah saja dengan persyaratan sedia kala. Ada pasangan, wali, saksi, ijab qabul, bukan merupakan mahram, dan tidak dipaksa, serta beberapa syarat administrasi KUA lainnya. Jangan ditambahi berbagai persyaratan lagi. Makin banyak syarat, makin panjang alur, makin banyak tuntutan pencerahan sumber daya manusia-nya.

Subjektif sih, tapi menurut kamu makin aneh gak sih peraturan di negeri plus enam dua (+62) zaman kiwari. Entah apa motivasi dari pembuat kebijakan, tapi banyak esensi kebijakan yang keluar dari konteks permasalahan. Kalau sempat memperhatikan, dulu ada wacana kalau lulus sekolah disyaratkan dengan tes keperawanan. Bagus? Bisa jadi. Cari di google dan komentar gih, daerah mana yang berencana menerapkan tes keperawanan sebagai syarat lulus sekolah.

Sebagian orang memang memberikan indikator terhadap dikotomi nakal dan tidak nakal seorang murid dari status anunya. Mari saya sederhanakan, kalau kamu masih perawan berarti kamu anak baik-baik. Titik.
Masalahnya, kalau laki-laki diukurnya pakai apa? Bingung kan?
Lantas, kalau dia korban perkosaan bagaimana? Tetap saja dicap nakal?
Kalau saja dia tidak lulus karena murni nilai jelek, yakin orang lain gak akan bergibah mempertanyakan status kegadisan? Absurd ya.

Tulisan tentang lulus dan kegadisan tidak ada hubungannya dengan konten utama, hanya untuk membangun sikap nyinyir Anda terhadap pembuat kebijakan saja. Supaya Anda setuju dengan saya untuk berpikir kritis dan merasa aneh, setiap kali ada kebijakan nyeleneh.

Sama seperti hasil tes narkoba. Jika positif, besar sekali kemungkinan status kamu adalah anak nakal. Netijen tidak akan peduli bagaimana proses sampai muncul hasil positif pada tes. Sekali pun kamu tidak pernah konsumsi narkoba, jangan berleha-leha. Banyak kejadian tak disangka ketika seseorang bukan pengguna aktif, tetapi ketika dites urine tiba-tiba dia dinyatakan positif. Ada banyak faktor penyebabnya, mari kita buka wawasan. Saya lansir dari detikHealth.

1. Obat Flu. Dekongestan atau pelega tenggorakan bisa terdeteksi sebagai amphetamin dalam tes urine. Turunan amphetamin disebut MDMA (ekstasi).
2. Sabun bayi. Produk sabun bayi memicu hasil positif THC (tethrahydrocannabinol). THC senyawa aktif dalam ganja, kelihatan kan dari nama senyawa-nya. Konteks sabun bayi ini ada di North Carolina di Amerika sono. Indonesia? Baru tumbuh saja si ganja sudah dibakar. Selain itu, penggunaannya juga susah. Nikah saja belum, bayi siapa mau dimandiin?.
3. Asap rokok ganja. Jadi, kalau ada teman ngerokok ganja di depan kamu selama sejam, darahmu akan mengandung THC sebesar 20-50 nanogram per mililiter. Kamu gak ikut ngerokok, tapi bisa ke-apes-an juga.
4. Air tonik. Air tonik itu minuman berkarbonasi mengandung kina (quinolone). Kina sering dicampurkan dengan narkoba, sehingga dianggap jadi salah satu indikator penyalahgunaan. Banyak yang bilang kalau kina juga obat malaria.
5. Antibiotik. Jurnal Current Psychiatry Agustus 2006 sebut antibiotik seperti amoxicilin bisa membuat peminumnya jadi positif tes kokain. Antibiotik quinolone juga dianggap positif pada tes heroin dan morfin. Padahal niatnya cuma minum air.

Demikian ulasan tentang tes narkoba yang bisa gagalkan jalan percintaanmu. Alkohol, amphetamin, heroin, ganja, dan morfin bisa dideteksi dalam 90 hari. Mari kita berhati-hati dan mulai belajar berpikir kritis. Salah satunya, berikan penilaian terhadap pernyaan berikut.

Setuju kalau tes narkoba jadi syarat nikah? Kenapa kita hobi melihat hasil? Enggak menilai proses? Katanya berpendidikan.

Sudah LDR-an lama, ngempet banget, pas mau nikah mendadak flu. Kan jadi panjang urusan. Padahal ada tes yang jauuuh lebih kontekstual. Tes terbebas dari masa lalu.

Banyuwangi, 19 Juli 2019.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *